Minggu, 15 Januari 2012

Romantika Kebesaran Masa Lalu


Indonesia merupakan negara yang indah di antara negara negara yang ada di dunia. Banyak hal yang mendukung pernyataan tersebut. Disamping keindahan alamnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah yang diberikan oleh Allah kepada masyarakatnya. Selain itu, bangsa Indonesia memiliki beranekaragam suku, agama, ras,  dan kebudayaan yang berbeda namun tetap selaras dan saling menghormati dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal semacam inilah yang terkadang tidak dimiliki oleh bangsa lain didunia ini.
Sebagaimana kita tahu, sejak dahulu bangsa Indonesia memiliki peradaban yang tinggi sejajar dengan bangsa-bangsa berperadaban besar  manapun di dunia.  Sejak zaman kerajaan sriwijaya, masyarakat Indonesia telah mengenal peradaban, ditandai dengan sistem pemerintahan yang baik, mengenal bercocok tanam, memiliki kebudayaan, dan masyarakatnya makmur. Hal tersebut setidaknya berlangsung turun temurun lintas masa dan kerajaan hingga masa puncak keemasan peradaban Indonesia pada zaman kerajaan majapahit, dengan patih yang  sangat terkenal pada masa itu yaitu mahapatih Gajah Mada. Gajah mada telah terbukti mampu menyatukan seluruh nusantara, didukung dengan sistem pelayaran yang modern serta dukungan militer yang tangguh. Sumpahnya yang terkenal dalam upaya menyatukan kembali nusantara pada masa itu adalah Sumpah PALAPA.
Nampaknya romantika kebesaran masa lalu bangsa Indonesia seolah terhenti ketika bangsa eropa mulai berdatangan ke Indonesia dengan berbagai macam tujuan. Dengan dalih berdagang, bangsa kulit putih ini mulai menanamkan akar koloninya perlahan-lahan di Indonesia. Dari sinilah penjajahan di Indonesia dimulai.  Bermula dari bangsa portugis, tongkat estafet penjajahan jatuh ketangan Belanda. Selama tidak kurang dari  350 tahun bangsa Indonesia dibawah pengaruh kolonialisme Belanda, angka yang tidak sedikit bagi masyarakat Indonesia yang selama itu hidup sengsara dibawah kaki tangan belanda.  keindahan dan kekayaan alam yang dimiliki Bangsa Indonesia telah membuat bagsa kulit putih ingin mencicipi pula apa yang dimiliki oleh masyarakat Indoenesia.
Kesadaran nasional yang tumbuh dikalangan kaum terpelajar Indonesia pada akhirnya menghantarkan bangsa Indonesia dapat melepaskan diri dari cengkeraman belanda, hingga perjuangan itu beroleh manis proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak itu, kolonialisme dapat dikatakan mangkat dari bumi Indoenesia. Akan tetapi, banyak pihak yang melihat bahwa kemerdekaan Indonesia itu hanya dalam tataran politis, namun tidak dalam aspek lain. Penjajahan yang tidak tampak disetiap sendi-sendi negara itu bahkan hingga kini masih nampak jelas.  Meminjam istilah soekarno, penjajahan bentuk baru ini disebut sebagai neo kolonialism – neo imperialism. Bahasan tentang dua hal tersebut tentu butuh waktu dan referensi yang tidak sedikit, sehingga tulisan saya cukup sampai disini. Hiks hiks hiks…. (Menangis)

Sebuah catatan kecil KTD GMNI Kediri 2012

Kediri- Pelaksanaan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI Kediri 2012 yang diselenggarakan oleh DPC GMNI Kediri selama tiga hari penuh pada tanggal 6 - 8 Januari 2012 di Balai Desa Sumberejo - Kec. Ngasem - Kab. Kediri telah terlaksana dengan apik. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan buah dari kerja keras penyelenggara dan juga segenap Panitia pelaksana yang terdiri atas kader-kader GMNI Komisariat, dan juga dukungan penuh dari segenap alumni.  Kaderisasi ini merupakan kali pertama yang berhasil diselenggarakan semenjak DPC GMNI Kediri terbentuk 1 tahun yang lalu.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh ketua DPC GMNI Kediri, Gunawan Adi Prasetya pada Jum'at, 6 Januari 2012 dengan menyematkan ID Card  dan pemberian Modul Pelatihan pada salah satu peserta KTD , disaksikan seluruh peserta pelatihan, panitia, dan alumni GMNI yang hadir dalam  acara Grand Opening KTD GMNI Kediri 2012. Dalam rangkaian acara tersebut salah satu alumni GMNI, Eva Kusuma Sundari yang juga masih menjabat sebagai anggota DPR-RI dengan semangat penuh memberikan Kuliah Umum Kebangsaan  (Studium General) dan beberapa pesan-pesan kepada kader GMNI Kediri sebelum acara ditutup. Selanjutnya, acara ditutup dengan do'a bersama yang dipimpin oleh Pembantu Rektor 3 STAIN Kediri.



Secara garis besar, kepanitian KTD GMNI Kediri 2012 yang diketuai oleh Khoirul, kader GMNI dari UNP Kediri yang mengusung jargon "BERDIKARI" ini terbilang sukses. Salah satu indikator keberhasilan tersebut adalah tersampaikannya semua materi pelatihan oleh pemateri-pemateri yang berkompeten dan terlaksanannya seluruh agenda kegiatan dari awal hingga akhir  sesuai dengan konsep acara yang telah dibuat mulai Grand Opening  hingga satu demi satu seluruh rangkaian kegiatan itupun semuanya terlaksana dengan lancar hingga akhir.  Antusiasme peserta pelatihan dalam mengikuti materi-materi dan program pelatihan terlihat sangat baik dari awal hingga akhir pelaksanaan kaderisasi,  ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul saat materi berlangsung.

Sabtu, 8 Januari 2012 pukul 15.30 WIB dilangsungkan  ceremonial penutupan acara yang diikuti oleh seluruh peserta kaderisasi. Setelah pembacaan Ikrar Prasetya oleh seluruh peserta KTD, di lanjutkan dengan pengesahan Kader GMNI Kediri oleh Ketua DPC GMNI Kediri dan diakhiri dengan pentup, maka KTD GMNI Kediri 2012 telah terlaksana.
 
Saya ucapkan:
Sukses kepada  DPC GMNI Kediri atas terselenggaranya Kaderisasi
Selamat bergabung di GMNI Kediri kepada para peserta yang lulus Kaderisasi,
Kepada temen-temen panitia, nanti dulu selamatnya.

Jabat erat Indonesia,,
Merdeka...!!!